BUKITTINGGI, 28 Oktober 2026 – Pengurus Yayasan Rumah Sakit Islam (Yarsi) Sumatera Barat membai’at 52 karyawan tetap periode tahun 2026 di Aula Universitas Mohammad Natsir Bukittinggi, Rabu (28/10/2026).
Kegiatan ini turut dihadiri jajaran pengurus Yarsi Sumbar, yaitu Ketua Umum Yarsi Sumbar, dr. Erman Ramli, Sp.OG(K), FISQua; Ketua Bidang Pelayanan Kesehatan dan Pengembangan SDM, dr. Abdi Setia Putra, MARS; Ketua Bidang Pendidikan, Ruhis dan Litbang, dr. Zulfa, MARS; serta Sekretaris Umum, Jimmi Syah Putra Ginting, S.Pd. Para pengurus didampingi Kabag SDM Kantor Pusat Yarsi Sumbar, Mutia Rosi Satrina, beserta staf lainnya.
Acara diawali dengan tilawah Al-Qur’an oleh Rizan Hasbullah, M.AP, kemudian dilanjutkan dengan prosesi pembacaan ikrar bai’at oleh para karyawan yang dipandu Sekretaris Umum Yarsi Sumbar, Jimmi Syah Putra Ginting, S.Pd.
Dalam sambutannya, dr. Erman Ramli menyampaikan rasa syukur atas terlaksananya bai’at tersebut dan mengajak seluruh karyawan menjalaninya dengan ikhlas. Menurutnya, bai’at adalah janji yang dikaitkan dengan Allah SWT. Karena itu, ia berdoa agar apa yang dilaksanakan bernilai ibadah.
Ia menjelaskan bahwa kehadiran bersama dalam acara ini didasari pandangan bahwa bai’at merupakan ucapan yang tulus, yaitu janji untuk melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya.
Bermula dari gagasan Natsir
dr. Erman mengaitkan bai’at tersebut dengan sejarah berdirinya Yarsi Sumbar. Yarsi lahir dari upaya membaca kondisi umat Islam di Sumatera Barat, mulai dari perkembangan politik, ekonomi, hingga kondisi fasilitas kesehatan di Sumbar saat itu. Dari situ muncul gagasan Mohammad Natsir untuk mendirikan Yarsi Sumbar.
Ia menyebut adanya surat singkat Natsir kepada para pemuka masyarakat yang mengajak mereka melihat kebutuhan umat di bidang ekonomi dan kesehatan. “Kita sebagai pelanjut, wajar mengikuti pendahulu kita,” ujarnya.
Tiga identitas kader Yarsi
dr. Erman menegaskan bahwa seluruh karyawan Yarsi adalah kader yang memiliki tiga identitas.
Pertama, Islam. Kader Yarsi berdakwah dengan perbuatan, sehingga setiap karyawan adalah da’i dalam aktivitas sehari-hari. Dalam konteks pelayanan kesehatan, ia mengingatkan bahwa kesembuhan datang atas izin Allah SWT.
Kedua, profesional di bidangnya. Kader Yarsi tidak berhenti belajar setelah meraih gelar sarjana, tetapi terus dinamis menggali ilmu setiap waktu.
Ketiga, pejuang. Kader Yarsi berjuang untuk dirinya, keluarganya, dan lembaga, serta untuk mengembangkan umat ke depan.
Ia juga menyampaikan bahwa Yarsi berdiri di atas kaki sendiri dan terus berupaya memberikan pelayanan yang optimal.
Di akhir sambutan, dr. Erman mengucapkan selamat kepada para karyawan yang dibai’at dan berpesan agar janji tersebut dipegang teguh karena diikrarkan di hadapan Allah SWT. “Kita Islam, kita profesional, dan kita pejuang,” tegasnya.
Pembekalan karyawan tetap
Usai prosesi bai’at dan sambutan Ketua Umum, kegiatan dilanjutkan dengan pembekalan bagi para karyawan tetap melalui lima materi.
Pada materi Keyarsian, dr. Erman Ramli memaparkan visi, misi, motto, dan nilai Yarsi Sumbar. Materi itu mencakup cita-cita menjadi lembaga layanan kesehatan dan pendidikan terkemuka berbasis syariah, motto “kerja keras, kerja ikhlas, dan kerja cerdas”, serta nilai bekerja sebagai ibadah. Peserta juga diperkenalkan dengan unit-unit yang dinaungi Yarsi Sumbar, yakni enam RSI Ibnu Sina dan Universitas Mohammad Natsir Bukittinggi.
Materi Pelayanan Prima disampaikan dr. Abdi Setia Putra, MARS. Ia memaparkan bahwa pelayanan prima adalah layanan yang melampaui harapan pasien. Pelayanan semacam itu ditopang enam pilar (kemampuan, sikap, penampilan, perhatian, tindakan, dan tanggung jawab), budaya 5S (senyum, salam, sapa, sopan, santun), serta penanganan keluhan pasien yang cepat dan terukur.
Pada materi Ruhul Islam, dr. Zulfa, MARS, menekankan bahwa Yarsi bukan milik perorangan, melainkan titipan umat yang harus dijaga melalui tiga pilar: titipan, tanggung jawab, dan akuntabilitas. Ia mengajak karyawan menghadirkan nuansa, syiar, dan citra Islam dalam setiap layanan, dengan semangat bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.
Sementara itu, materi Panduan Etika Pelayanan Islami Yarsi Sumbar disampaikan Sri Warti, pensiunan perawat RSI Ibnu Sina Padang Panjang. Ia menguraikan empat pilar, yaitu pelayanan sanubari (persaudaraan), melayani dengan hati, melayani dengan senyum, dan komunikasi terapeutik, serta standar interaksi harian 4S: senyum, salam, sapa, dan santun.
Adapun materi Budaya Organisasi disampaikan Yessi, SE, MM, Kabag Administrasi Umum, SDM, dan Perencanaan RSI Ibnu Sina Payakumbuh. Ia memaparkan delapan nilai budaya kerja “Ibnu Sina”, yaitu ikhlas, berbudi, nuansa Islami, uswah, santun, inovatif, normatif, dan amanah. Menurutnya, budaya organisasi bukan sekadar slogan yang dipasang di dinding rumah sakit, melainkan nilai yang harus dipahami, diyakini, dan diwujudkan dalam perilaku sehari-hari seluruh pegawai.
Kegiatan kemudian ditutup dengan foto bersama.